Rupiah Tertekan, Dolar Menguat ke Rp17.840, Harga Emas Anjlok
Ilustrasi
Lumajang, satudetik.online -Rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS. Pada Sabtu, 6 Juni 2026, kurs USD/IDR berada di level Rp17.840 per dolar AS.
Posisi itu menguat 2,9% dibandingkan sebulan lalu yang berada di Rp17.334. Bank Indonesia mencatat kurs hari ini Rp17.836,5, turun tipis 0,028% dari hari sebelumnya.
Harga Emas Anjlok
Harga emas dunia ikut terkoreksi. Emas spot XAU/USD berada di $4.327,89 per troy ounce atau turun 3,29% dalam sehari.
Penurunan itu melanjutkan koreksi dari rekor tertinggi $5.602,22/oz pada 28 Januari 2026.
Dampaknya terasa di dalam negeri. Harga jual emas Antam 1 gram di Logam Mulia hari ini Rp2.744.845, turun Rp32.080 atau 1,16%. Harga buyback turun Rp52.000 ke Rp2.531.000.
Tiga Pemicu Dolar Menguat
Analis menyebut tiga faktor utama penguatan dolar:
1. Suku bunga AS tinggi. The Fed belum memangkas suku bunga sehingga aset berdenominasi dolar AS lebih menarik.
2. Status safe haven. Ketidakpastian ekonomi global mendorong investor masuk ke dolar AS.
3. Arus modal keluar. Investor asing menjual saham dan SBN Indonesia, lalu menukar rupiah ke dolar AS.
“Dolar menguat tidak hanya terhadap rupiah. Euro, yen, dan mata uang Asia lainnya juga melemah. Ini fenomena global,” ujar pengamat ekonomi.
Kurs Bukan Ditentukan Presiden
Kurs rupiah ditentukan pasar dan Bank Indonesia melalui kebijakan moneter. Kebijakan fiskal pemerintah seperti APBN, pajak, dan investasi memengaruhi kepercayaan jangka panjang.
Sejarah mencatat rupiah pernah menyentuh Rp16.000 pada 1998, Rp12.000 pada 2013, dan Rp16.300 pada 2020. Fluktuasi terjadi di setiap era pemerintahan dan dipengaruhi kondisi global serta domestik.
Saat ini BI terus melakukan intervensi melalui penjualan dolar AS dan pengelolaan suku bunga agar pelemahan rupiah tidak berlebihan.
Data kurs dan harga emas dapat berubah sewaktu-waktu sesuai pergerakan pasar.***
