Lansia Pasirian Tetap Aktif, Pengalaman Puluhan Tahun Jadi Bekal Generasi Muda
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Waktu baca sekitar 3 menit
Lumajang, satudetik.online — Pensiun dari pekerjaan formal bukan berarti berhenti berperan. Di Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, para lanjut usia (lansia) justru terus didorong untuk aktif melalui Sekolah Lansia Tangguh (Selantang).
Ruang pembelajaran tersebut tidak hanya menjadi tempat lansia menambah pengetahuan.
Selantang juga menjadi wadah untuk bersosialisasi, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan dengan lingkungan, sekaligus mempertahankan peran generasi senior di tengah masyarakat.
Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Pasirian, Sutrisno, mengatakan usia lanjut tidak semestinya dipandang sebagai akhir dari masa produktif seseorang. Menurutnya, produktivitas lansia tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan atau kemampuan menghasilkan pendapatan.
"Lansia yang purnatugas sering dianggap sudah selesai. Padahal, produktivitas tidak cuma soal uang, tetapi juga pengalaman, nasihat, dan peran menjaga keutuhan keluarga," ujar Sutrisno di Lumajang, Kamis (24/9/2026).
Pengalaman Lansia Tak Boleh Berhenti
Sutrisno menilai perjalanan hidup yang telah dilalui para lansia merupakan modal pengetahuan yang masih dibutuhkan generasi berikutnya.
Pengalaman dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, hingga menghadapi berbagai persoalan selama puluhan tahun dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak maupun generasi muda.
Nasihat, pendampingan anggota keluarga, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bentuk kontribusi yang tidak selalu dapat dihitung dengan materi.
Karena itu, keberadaan ruang sosial seperti Selantang dinilai penting agar lansia tidak hanya menjadi penerima perhatian, tetapi juga tetap memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman dan berkontribusi sesuai kemampuan.
Bukan Hanya Soal Fisik, Ketenangan Juga Penting
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang, Mardiyanti, mengajak para lansia untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental.
Menurutnya, memasuki usia lanjut membutuhkan keseimbangan antara menjaga kondisi tubuh dan mempertahankan ketenangan hati. Lansia juga perlu tetap terlibat dalam berbagai kegiatan sosial agar tidak kehilangan aktivitas dan interaksi dengan lingkungan.
"Di usia saat ini, bersyukur adalah kebutuhan hati. Obat paling murah bagi lansia bukanlah vitamin, melainkan hati yang tenang," tutur Mardiyanti.
Ia mendorong lansia memanfaatkan berbagai kegiatan yang tersedia di lingkungan masyarakat, mulai dari posyandu lansia, senam bersama, pengajian, hingga kegiatan yang sesuai dengan minat dan hobi.
Aktivitas tersebut bukan sekadar mengisi waktu. Interaksi rutin juga menjadi ruang bagi lansia untuk tetap terhubung dengan masyarakat setelah tidak lagi menjalani rutinitas pekerjaan formal.
Lansia Disebut "Perpustakaan Berjalan"
Mardiyanti juga menggambarkan lansia sebagai "perpustakaan berjalan" karena memiliki pengalaman panjang yang tidak dimiliki generasi berikutnya.
"Lansia adalah perpustakaan berjalan yang pernah ikut membangun daerah. Jika ada yang memandang sebelah mata, bukan karena lansia itu kecil, melainkan karena cara pandang mereka saja yang belum terbuka lebar," tegasnya.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi aset sosial yang dapat diwariskan. Apa yang telah dilalui para lansia selama puluhan tahun dapat menjadi referensi bagi generasi muda, baik dalam kehidupan keluarga maupun ketika berinteraksi di tengah masyarakat.
Di Desa Pasirian, kegiatan Selantang mendapat dukungan melalui Anggaran Dana Desa (ADD). Tim Penggerak PKK Desa Pasirian turut dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Pertemuan dan pembelajaran Selantang dijadwalkan berlangsung rutin setiap bulan, tepatnya pada Rabu minggu pertama. Program tersebut direncanakan berjalan hingga September 2027.
Dengan kegiatan rutin itu, Selantang tidak sekadar menjadi tempat belajar bagi lansia. Program tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga aktivitas, memperluas pergaulan, mendukung kesehatan, serta membuka kesempatan bagi generasi senior untuk tetap memberikan manfaat.
Pensiun dari pekerjaan formal pada akhirnya bukan berarti pensiun dari kehidupan sosial. Ketika pekerjaan telah ditinggalkan, pengalaman, pengetahuan, dan keteladanan masih bisa terus diwariskan kepada keluarga maupun generasi berikutnya.(Bernad)
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.