Hukum Kita: Tajam seperti Silet ke Bawah, Tumpul seperti Sendok ke Atas
Ilustrasi
satudetik.online - Negeri ini lucu. Hukumnya seperti tangga darurat: yang kecil disuruh melompat dari lantai sepuluh, yang besar naik lift VIP sambil menyeruput kopi. Akibatnya, rakyat kecil jadi susah.
Mau hidup lurus, jalannya berkerikil. Mau berbelok sedikit, langsung masuk penjara. Sementara yang berbelok dengan Mercy, jalannya malah dilapisi karpet merah.
Coba lihat maling receh. Copet ponsel, jambret kalung, begal motor seharga lima belas juta. Nasibnya seperti layangan putus. Begitu tertangkap massa, langsung menjadi "sate manusia". Tulang retak, gigi copot, hanya celana dalam yang masih setia. Belum sampai kantor polisi, sudah disambut "pesta sambutan" paling meriah.
Masuk tahanan? Proses hukumnya melesat seperti motor balap. Sidang kilat, vonis kilat, masuk bui kilat. Cepat, tepat, dan menyakitkan.
Sekarang bandingkan dengan maling berdasi. Koruptor. Mainnya bukan menjambret, tetapi "menjambret anggaran".
Sikatnya bukan di lampu merah, tetapi di ruang rapat berpendingin udara. Yang dicuri bukan motor, tetapi mimpi.
Dana bantuan sosial disunat, proyek fiktif ditebar, APBN dikunyah seperti kerupuk. Nilainya? Miliaran. Nol-nya lebih banyak daripada helai rambut di kepala.
Lalu hukumannya bagaimana? Santai saja. Tinggal di hotel prodeo yang fasilitasnya seperti kos eksklusif. Jalan-jalan keluar? Bisa. Remisi? Gampang. Ujung rambut aman, perut makin buncit, muka makin bercahaya. Hukum di sini tajam seperti silet cukur untuk rakyat kecil, tumpul seperti sendok makan untuk maling berdasi.
Kalau diukur dengan logika, maling motor hanya membuat satu orang menangis. Koruptor membuat satu provinsi sengsara. Yang satu merampas kendaraan, yang satu merampas rumah sakit yang tidak jadi dibangun, jalan yang berlubang seperti permukaan bulan, dan sekolah yang atapnya bocor saat hujan. Secara "keganasan", jelas koruptor juaranya.
Dia maling tujuh turunan. Uang yang kalau dihabiskan sampai kiamat tidak akan habis, tetap disikat. Itu bukan maling, itu sedot WC, tetapi isinya uang rakyat.
Ironisnya, maling sandal dikejar sampai ke got, masuk berita "kriminalitas meresahkan". Koruptor dikejar KPK, masuk berita "oknum sedang diperiksa".
Pemeriksaannya lama seperti mengantre sembako. Hasilnya? Kadang hanya menjadi sinetron azab: banyak tangis, banyak kilas balik, akhirnya bebas bersyarat.
Hukum kita kadang seperti jangkrik. Bunyinya nyaring sekali kalau ada semut lewat. Tetapi kalau gajah menginjak sarangnya, diam seribu bahasa.
Pasal untuk rakyat kecil langsung berlapis-lapis, seperti kue lapis legit. Pasal untuk pejabat? Tiba-tiba menjadi pasal karet, bisa ditarik-ulur sesuai selera.
Ini bukan pembelaan untuk jambret, begal, atau maling ayam. Salah ya salah. Tetapi kalau berbicara keadilan, kita harus membuka mata lebar-lebar. Jangan sampai kacamata hukum kita minus sebelah.
Sekali lagi, tulisan ini bukan menyuruh menjadi begal. Begal tetap salah, harus dihukum. Titik. Tetapi hukum juga harus memiliki timbangan yang sama.
Jangan timbangannya seperti timbangan pasar: untuk pembeli dikurangi, untuk bandar ditambah.
Selama "celana dalam" lebih cepat masuk bui daripada "koper miliaran", wajar kalau rakyat kecil menjadi sinis dan berkata:
"Di negeri ini, maling sandal masuk penjara, maling negara masuk berita. Bedanya, yang satu memakai borgol, yang satu memakai dasi."
Keadilan itu bukan soal siapa yang berteriak paling kencang. Tetapi soal siapa yang berani bersikap sama rata, walau yang diadili memakai kopiah atau memakai rompi oranye.
Selama hukum masih pilih kasih, jangan heran kalau rakyat kecil hanya bisa menyeringai getir:
"Menjadi orang jujur susah. Menjadi penjahat kecil juga susah. Menjadi penjahat besar? Nah, itu baru gampang."
Penulis : Bayu S.
