Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu dan Tempe di Lumajang Kelimpungan
ilustrasi produksi menggunakan bahan baku kedelai
Lumajang, satudetik.online – Lonjakan harga kedelai yang kini mencapai Rp11.000 hingga Rp13.000 per kilogram membuat para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lumajang semakin tertekan. Kenaikan harga tersebut dipicu melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada harga impor pangan.
Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor yang mencapai sekitar 90 persen membuat fluktuasi harga internasional langsung dirasakan para pelaku usaha kecil, khususnya produsen tahu dan tempe rumahan.
Tingginya harga bahan baku dinilai tidak sebanding dengan harga jual tahu dan tempe di pasaran. Akibatnya, banyak perajin harus mengurangi produksi agar tetap bisa bertahan.
Malikan, salah satu perajin tahu asal Bagusari, Lumajang, mengaku kesulitan mempertahankan usahanya di tengah kenaikan harga kedelai yang terus terjadi.
“Kalau harga kedelai naik terus seperti ini, keuntungan makin tipis. Harga jual tahu juga sulit dinaikkan karena pembeli bisa berkurang,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Hal senada disampaikan Makinun, pembuat tempe asal Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono. Menurutnya, kondisi saat ini membuat para perajin tempe serba kesulitan karena biaya produksi meningkat drastis.
“Kami terpaksa mengurangi ukuran tempe dan jumlah produksi supaya tetap bisa jalan. Kalau harga naik terus, usaha kecil seperti kami sangat berat,” katanya.
Para perajin berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai serta memperkuat pasokan kedelai lokal agar pelaku usaha kecil tidak terus bergantung pada impor. (Bernad)
