Angka Kemiskinan Lumajang Turun, Ekonomi Tumbuh 5,35 Persen pada 2026
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Waktu baca sekitar 3 menit
Lumajang, satudetik.online – Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lumajang turun sebanyak 2.780 orang dalam setahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang, jumlah penduduk miskin menyusut dari 90.640 orang pada Maret 2025 menjadi 87.860 orang pada Maret 2026. Persentase kemiskinan pun turun dari 8,60 persen menjadi 8,33 persen.
Penurunan tersebut menjadi sinyal positif bagi pembangunan daerah. Namun di balik membaiknya angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, pekerjaan rumah pemerintah daerah belum selesai. Pemerataan manfaat pembangunan hingga masyarakat berpenghasilan rendah masih menjadi tantangan.
Dalam catatan BPS, persentase penduduk miskin Lumajang selama satu dekade terakhir turun 2,89 poin, dari 11,22 persen pada 2016 menjadi 8,33 persen pada Maret 2026.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyebut tren penurunan tersebut sebagai kabar baik sekaligus dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Penurunan angka kemiskinan ini menjadi kabar baik bagi Lumajang. Ke depan, kami terus berupaya agar pembangunan dan pelayanan pemerintah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Indah, Selasa (20/10/2026).
Dari sisi perekonomian, Kabupaten Lumajang mencatat pertumbuhan 5,35 persen pada 2025, meningkat dibandingkan 4,52 persen pada 2024. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 31,98 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB).
Besarnya kontribusi sektor tersebut menunjukkan kehidupan ekonomi masyarakat Lumajang masih erat dengan sektor berbasis sumber daya alam.
Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani, penguatan usaha kecil, serta perluasan akses pasar menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan pemerintah daerah terus mendorong pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui kolaborasi dan pemberdayaan.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui program Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu (Setormadu).
Dalam pelaksanaan Setormadu di Kecamatan Gucialit dan Senduro pada 5–6 Agustus 2025, layanan Siap Saji memfasilitasi penerbitan 102 Nomor Induk Berusaha (NIB) gratis bagi pelaku usaha.
Kemudahan perizinan ini diharapkan membantu masyarakat mengembangkan usaha sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas.
Meski demikian, tantangan kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk miskin. Garis kemiskinan di Lumajang naik 9,18 persen, dari Rp420.165 per kapita per bulan pada Maret 2025 menjadi Rp458.716 pada Maret 2026. Artinya, batas pengeluaran minimum untuk mengukur kemiskinan turut meningkat.
Sementara itu, indeks kedalaman kemiskinan turun dari 0,68 menjadi 0,62, sedangkan indeks keparahan bertahan di angka 0,08. Penurunan indeks kedalaman mengindikasikan rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin menyempit.
Adapun indeks keparahan yang tidak berubah menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin masih perlu dicermati.
Data tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam penanganan kemiskinan. Namun keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari berkurangnya jumlah penduduk miskin atau meningkatnya pertumbuhan ekonomi semata.
Pemerintah daerah tetap perlu memastikan program pengentasan kemiskinan tepat sasaran, pelayanan dasar semakin mudah diakses, serta peluang kerja dan usaha terbuka lebih luas. Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan dapat berlanjut dan pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.(Bernad)
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.