• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami
LumajangSerba Serbi

Dari Yosowilangun, Kemerdekaan Menari di Jalanan Lumajang

PENULIS: Bernad
EDITOR: Teguh Eko Januari
6 jam yang lalu
3 VIEWS
Dari Yosowilangun, Kemerdekaan Menari di Jalanan Lumajang

Lumajang, satudetik.online — Alunan musik terdengar. Langkah kaki berdentum serempak. Warna-warni kostum berkelebat di tengah kerumunan. Ribuan pasang mata yang semula mengikuti hiruk-pikuk karnaval perlahan tertuju pada satu sajian: Tari Nararya Kirana.

Di jalanan Lumajang, Sabtu, 29 Agustus 2026, karya orisinal warga Kecamatan Yosowilangun itu hadir tidak hanya untuk menghibur. Di balik gerak tangan, hentakan kaki, formasi penari, dan iringan musik, tersimpan pesan penting: budaya daerah akan tetap memiliki ruang apabila masyarakat bersedia merawatnya.

Nararya Kirana tampil menonjol di tengah parade karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakannya lentur namun tegas. Formasinya tertata rapi. Kostumnya dirancang berkarakter. Musiknya memadukan nuansa tradisional dengan semangat kebangsaan.

Pertunjukan tersebut berhasil menarik perhatian ribuan warga yang memadati jalur karnaval.

Di hadapan Bupati dan Wakil Bupati Lumajang beserta jajaran Forkopimda, para penari tampil penuh tenaga. Mereka tidak hanya mengejar kemeriahan panggung. Lewat tarian itu, mereka seakan menyampaikan gagasan bahwa kemerdekaan tidak sebatas upacara dan seremoni, tetapi juga menyangkut kemampuan suatu daerah mempertahankan jati dirinya.

Yang membuat Nararya Kirana istimewa adalah karena karya ini lahir dari masyarakat.

Ia bukan pertunjukan yang selesai begitu musik berhenti. Di dalamnya ada kreativitas, kerja sama, dan keberanian membawa identitas lokal ke ruang publik yang lebih luas.

Setiap detail kostum menguatkan karakter tarian. Musik dan gerak menyatu menciptakan suasana. Kekompakan para penari menunjukkan bahwa karya budaya tidak lahir dari satu orang saja.

Ada semangat gotong royong di baliknya.

Ada proses panjang dalam menciptakan, berlatih, menjaga, dan memperkenalkan karya tersebut kepada masyarakat.

Di tengah derasnya arus budaya populer, Nararya Kirana menjadi bukti bahwa identitas daerah tidak harus selalu digali dari masa lalu.

Identitas bisa diciptakan hari ini. Dari desa. Dari gagasan warga. Dari keberanian generasi muda mengolah warisan budaya agar relevan dengan zaman.

Bagi Rochim, warga Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Nararya Kirana membuktikan bahwa budaya lokal tidak perlu tampil kaku agar disukai anak muda.

"Budaya harus terus diutamakan untuk generasi bangsa. Tarian seperti ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tampil menarik sekaligus membawa pesan kebersamaan," ujarnya.

Pesan itu semakin relevan di tengah perubahan zaman. Tradisi yang tidak dirawat akan kehilangan tempatnya. Sebaliknya, budaya yang diberi ruang untuk tumbuh akan menjadi identitas yang hidup.

Nararya Kirana menggambarkan hal itu.

Memang, tarian ini hanya tampil beberapa menit di panggung karnaval. Namun maknanya jauh lebih panjang.

Tarian ini menceritakan masyarakat yang tidak ingin kehilangan akar, tetapi juga tidak ragu membawa budayanya melangkah ke depan.

Karena kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang terbebasnya bangsa ini dari penjajahan.

Kemerdekaan juga tentang keberanian menentukan siapa diri kita.

Dan dari Yosowilangun, jawaban itu disampaikan dengan cara sederhana namun kuat: melalui tarian, budaya lokal tetap hidup.(Bernad)

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami