Bukan Sekadar Dilatih, Penyandang Disabilitas Lumajang Disiapkan Masuk Dunia Kerja
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Waktu baca sekitar 3 menit
Lumajang, satudetik.online — Bagi sebagian orang, keterampilan digital hanya pelengkap. Namun bagi 16 penyandang disabilitas di Kabupaten Lumajang, pelatihan digital marketing dan video editing bisa menjadi jalan menuju kemandirian.
Di balik keterbatasan fisik, mereka dipersiapkan memasuki dunia kerja yang kompetitif. Bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai calon wirausahawan.
Pelatihan kompetensi khusus dan kewirausahaan itu digelar Kementerian Ketenagakerjaan bersama Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lumajang, dengan dukungan BAZNAS RI.
Kepala Bakorwil V Jember, Budi Raharjo, S.E., M.M., menegaskan pelatihan tidak boleh berhenti pada materi dan sertifikat.
“Pelatihan ini membekali kelompok difabel dengan keahlian praktis agar siap bekerja di sektor formal maupun berusaha mandiri di sektor informal. Tidak hanya dilatih, tapi juga harus siap ditempatkan,” kata Budi, Jumat, 11 September 2026.
Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan dengan fokus digital marketing dan video editing. Dua bidang ini dipilih karena memiliki peluang besar seiring tumbuhnya ekonomi digital.
Budi menyebut kegiatan ini istimewa karena merupakan pelatihan pertama untuk penyandang disabilitas di Lumajang.
“Spesialnya, kami laporkan pelatihan ini pertama kali dilaksanakan di Lumajang,” ujarnya.
Menurutnya, keberlanjutan program bergantung pada kreativitas dan inovasi pengelolaan anggaran. Respons cepat Disnaker Lumajang menjadi faktor utama terlaksananya program ini.
“Termasuk kegiatan kali ini, Disnaker Lumajang yang paling awal merespons,” imbuhnya.
Jangan Berhenti di Ruang Pelatihan
Pesan tegas disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Drs. Agus Triyono, M.Si.
Menurutnya, memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas adalah kewajiban pemerintah untuk memastikan kesejahteraan bagi seluruh warga.
“Ini amanah UU,” tegas Agus.
Namun ia mengingatkan persoalan penting setelah pelatihan: ke mana peserta melangkah?
Jangan sampai peserta sudah memiliki keterampilan, tetapi kembali menghadapi pengangguran karena tidak ada perusahaan yang mau menerima.
“Jangan sampai setelah dilatih mereka bingung ditempatkan,” katanya.
Bagi Agus, keberhasilan program tidak diukur dari jumlah peserta. Tolok ukurnya adalah berapa peserta yang akhirnya bekerja atau mampu membuka usaha sendiri.
Ia berharap pola pelatihan inklusif diperluas ke kelompok lain. Bahkan Agus punya gagasan agar pelatihan menyasar tukang bangunan untuk meningkatkan keterampilan teknis konstruksi sesuai standar.
“Saya punya angan-angan, suatu saat pelatihan bisa diberikan kepada tukang bangunan,” ujarnya.
Perusahaan Jangan Hanya Menonton
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lumajang, Subechan, S.E., M.M., mengapresiasi Kemnaker dan BAZNAS RI atas dukungan program tersebut.
Ia berharap peningkatan kompetensi penyandang disabilitas tidak berhenti pada satu kegiatan.
Subechan juga meminta perusahaan di Lumajang tidak menjadi penonton. Dunia usaha harus membuka ruang kerja bagi tenaga terlatih yang sudah disiapkan pemerintah.
“Ini harus ditangkap perusahaan di Lumajang. Kami siapkan tenaga terlatih, perusahaan yang siap menampungnya,” pungkasnya.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar melatih penyandang disabilitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan itu benar-benar menjadi jalan menuju pekerjaan, penghasilan, dan kemandirian.
Sebab inklusi tidak cukup dibicarakan di ruang pelatihan. Inklusi baru terasa ketika kesempatan yang sama benar-benar terbuka di dunia kerja. (Bernad)
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.