Ketika Literasi Jadi Komoditas: Menilik Fenomena Joki Baca Buku di Lumajang
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam bookmates Lumajang.
Waktu baca sekitar 3 menit
Lumajang, satudetik.online - Pagi itu, Minggu, 25 Oktober 2026.Cahaya matahari pagi menyinari atap Kafe Loji35 Jalan Brantas Nomor 35, Jogoyudan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang.
Di salah satu sudut meja, enam pemuda-pemudi yang tergabung sebagai bookmates dalam komunitas Lumajang Book Party tampak asyik berdiskusi.
Sembari menikmati minuman dan camilan, mereka gayeng ngobrol membedah isu yang tengah hangat diperbincangkan, yakni fenomena jasa joki baca buku.
Bookmates merupakan sebutan akrab bagi anggota, peserta, dan sahabat sesama pencinta buku yang bergabung dalam gerakan literasi komunitas tersebut.
Pertemuan ini merupakan gelaran perdana LENTERA (Lingkar Evaluasi Nalar, Teks, dan Realita), sebuah program literasi berkonsep diskusi santai yang mengulas isu atau tren viral di masyarakat.
Program ini memberikan nuansa baru bagi para bookmates. Pada edisi perdana ini, diskusi dipimpin oleh Jimmy Andrean sebagai moderator dan Elba Safira sebagai notulis.
Dengan mengangkat tema "Ketika Literasi Jadi Transaksi dan Bertahan Hidup Jadi Ambisi", diskusi diawali dengan pemantik dari moderator mengenai pemahaman dasar serta sisi positif dan negatif keberadaan jasa joki baca buku.
Ruang diskusi ini terbuka bagi siapa saja tanpa batasan jumlah peserta. Dinamika perbincangan berlangsung intens dan hangat hingga menyita perhatian pengunjung kafe lainnya.
Para peserta saling melempar pertanyaan, memberikan tanggapan, dan bertukar gagasan secara bergantian.
Zen, salah satu bookmates yang hadir, mengatakan, "Munculnya fenomena jasa joki baca buku ini dipicu oleh minimnya penyediaan lapangan pekerjaan yang layak dari pemerintah. Dorongan untuk bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi memicu lahirnya ide kreatif tersebut untuk menghasilkan uang."
Pendapat lain disampaikan oleh Zidah. Ia menilai fenomena tersebut sebagai peluang ekonomi yang memanfaatkan hobi.
"Ini sebenarnya ide yang bagus dalam melihat peluang penghasilan. Dengan kisaran tarif Rp700.000,00 hingga Rp2.600.000,00, jika hobi membaca bisa menghasilkan uang, mengapa tidak?" ujar Zidah.
Sementara itu, dari perspektif sosiologis, Hasbi menilai kehadiran joki baca buku menyasar individu yang ingin dipandang sebagai bookworm atau pencinta buku.
Dalam tren yang digaungkan para pemengaruh (_influencer_), predikat pencinta buku kerap dipersepsikan sebagai simbol kelompok elite.
"Dari sisi norma sosial, jasa joki buku merupakan efek samping dari peningkatan budaya literasi di Indonesia. Sisi positifnya memicu minat baca, sedangkan sisi negatifnya melahirkan perilaku performatif seolah-olah gemar membaca. Dalam struktur kelas sosial, ada orang yang ingin melompati modal budaya (_cultural capital_) menggunakan modal ekonomi (_economic capital_), yaitu dengan membayar joki agar dianggap sebagai bookworm," jelas Hasbi.
Diskusi diakhiri dengan penarikan kesimpulan dan saran. Para peserta menyimpulkan bahwa fenomena joki baca buku merupakan tren yang wajar muncul sebagai efek samping dari penggalakan budaya literasi.
Fenomena ini tidak perlu dihentikan secara paksa, melainkan akan meredup dengan sendirinya apabila masyarakat tidak lagi menggunakan jasa tersebut.
Melalui kehadiran program LENTERA, Lumajang Book Party berharap dapat memberikan suasana baru yang menyegarkan bagi penguatan budaya literasi para bookmates.
Pada edisi perdana ini, kegiatan sengaja dilaksanakan di Kafe Loji35 untuk memudahkan akses, Informasi mengenai lokasi pertemuan dan kegiatan selanjutnya dapat dipantau melalui akun Instagram resmi @lumajangbookparty.
Penulis: Ahmad Zainuri & Jimmy Andrean
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.