• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •
EkonomiNasional

IHSG Anjlok Lebih dari 4 Persen, Ancaman Trading Halt Membayangi Bursa

PENULIS: Nibras Senna
EDITOR: Teja Ripta
18 Mei 2026
6 VIEWS
IHSG Anjlok Lebih dari 4 Persen, Ancaman Trading Halt Membayangi Bursa

Kondisi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) per pukul 11.00 WIB

Ekonomi, satudetik.online - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Hingga sekitar pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat turun lebih dari 4 persen ke level 6.408,26 atau melemah sekitar 315 poin dibanding penutupan sebelumnya.

Pelemahan tajam ini memperpanjang tren koreksi pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

Aksi jual besar-besaran terlihat terjadi di berbagai sektor, mulai dari energi, teknologi, hingga saham-saham perbankan jumbo.

Tekanan terhadap IHSG semakin meningkat setelah pasar merespons hasil evaluasi indeks MSCI Mei 2026.

Sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN resmi keluar dari MSCI Global Standard Indexes, memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dari pasar domestik.

Situasi tersebut membuat investor mulai mewaspadai potensi terjadinya trading halt apabila pelemahan IHSG menyentuh level 8 persen dalam satu hari perdagangan.

Apa Itu Trading Halt?
Trading halt merupakan penghentian sementara aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ketika terjadi penurunan indeks yang terlalu tajam dalam satu sesi perdagangan.

Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah perlindungan pasar untuk meredam kepanikan investor dan memberikan waktu bagi pelaku pasar mencerna situasi yang terjadi.

Dalam aturan BEI saat ini: Jika IHSG turun lebih dari 8 persen, perdagangan akan dihentikan sementara (trading halt) selama 30 menit.

Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15 persen, bursa dapat melakukan trading suspend lebih lanjut.

Apabila pelemahan mencapai lebih dari 20 persen, perdagangan bisa dihentikan sampai akhir sesi perdagangan.

Trading halt sendiri bukan berarti pasar kolaps, melainkan mekanisme pengaman agar volatilitas ekstrem tidak memicu panic selling yang lebih besar.

Tren Koreksi IHSG Semakin Dalam
Koreksi IHSG kali ini dinilai sebagai kombinasi berbagai sentimen negatif global dan domestik.

Selain efek MSCI, investor juga masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Beberapa saham yang sebelumnya menjadi motor penguatan indeks kini justru mengalami koreksi tajam akibat aksi profit taking dan keluarnya dana asing.

Analis menilai pasar saat ini sedang berada dalam fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Meski demikian, sejumlah pelaku pasar melihat kondisi ini juga dapat membuka peluang akumulasi bertahap untuk saham-saham berfundamental kuat yang mengalami penurunan signifikan akibat sentimen jangka pendek.

Pelaku pasar kini akan mencermati pergerakan IHSG pada sesi kedua perdagangan. Jika tekanan jual terus meningkat dan penurunan mendekati level 8 persen, maka peluang terjadinya trading halt akan semakin besar.***