• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami
LumajangEkonomi

Harga Cabai Rawit Merah di Lumajang Tembus Rp75.000 per Kg, Tertinggi di Jatim

PENULIS: Bernad
EDITOR: Teguh Eko Januari
6 hari yang lalu
1005 VIEWS
Dengarkan BeritaAudio AI

Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis

Harga Cabai Rawit Merah di Lumajang Tembus Rp75.000 per Kg, Tertinggi di Jatim

Lumajang, satudetik.online — Harga cabai rawit merah di Kabupaten Lumajang kembali menanjak. Memasuki awal Oktober 2026, harga komoditas yang hampir selalu hadir di dapur masyarakat itu menembus Rp75.000 per kilogram.

Angka tersebut menempatkan Lumajang pada level harga tertinggi di Jawa Timur berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur.

Kenaikan harga cabai kali ini tidak hanya menjadi persoalan pedagang di pasar. Di balik angka Rp75.000 per kilogram, terdapat persoalan pasokan yang berkaitan langsung dengan kondisi produksi petani, terutama keterbatasan air di tengah musim kemarau.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Hendra Suwandaru, mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi cabai rawit merah.

Menurut Hendra, musim kemarau membuat ketersediaan air bagi petani semakin terbatas. Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap proses budi daya dan membuat hasil produksi cabai tidak maksimal.

"Musim kemarau menyebabkan ketersediaan air bagi petani cukup terbatas sehingga produksi cabai menjadi kurang maksimal," kata Hendra, Selasa (6/10/2026).

Cabai rawit merupakan komoditas yang cukup sensitif terhadap perubahan pasokan. Ketika produksi di tingkat petani menurun sementara kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha kuliner tetap berjalan, harga di pasar dapat bergerak naik dalam waktu relatif cepat.

Kondisi itu yang kini terlihat di Lumajang. Tekanan harga di pasar pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Persoalannya bermula dari sektor produksi, ketika petani harus menghadapi keterbatasan air untuk mempertahankan tanaman di tengah kondisi kemarau.

Dampaknya kemudian merambat ke tingkat konsumen. Rumah tangga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli cabai, sementara pelaku usaha kuliner juga menghadapi kenaikan biaya bahan baku yang digunakan setiap hari.

Harga Rp75.000 per kilogram sekaligus menjadi gambaran bahwa persoalan cabai tidak cukup diselesaikan hanya dengan melihat kondisi perdagangan di pasar. Pemerintah perlu melihat rantai pasok secara utuh, mulai dari ketersediaan air, kondisi lahan, produktivitas tanaman, hingga distribusi hasil panen.

Jika produksi belum kembali normal, harga cabai rawit merah masih berpotensi mengalami fluktuasi. Sebaliknya, ketika pasokan dari petani mulai meningkat, harga komoditas ini juga dapat kembali turun dengan cepat.

Bagi Lumajang, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Kabupaten yang selama ini memiliki aktivitas pertanian hortikultura cukup kuat kini harus menghadapi tekanan produksi akibat perubahan kondisi cuaca.

Pada akhirnya, Rp75.000 per kilogram bukan sekadar angka di pasar. Harga tersebut menjadi tanda bahwa tekanan sebenarnya berada di tingkat produksi. Ketika air terbatas dan hasil panen menurun, gejolak harga menjadi konsekuensi yang langsung dirasakan masyarakat, dari pasar hingga meja makan.(Bernad)

Bagaimana Tanggapan Anda?

Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.

Kembali ke Indeks

Berita Terkait

Rekomendasi Redaksi

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami