Di Warung Pojok, Tentang Mereka yang Dulu di Garis Depan
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Bergantian mereka datang menyapaku.
Yang dulu kita sebut relawan.
Yang dulu berdiri paling depan,
saat bising dan debu masih menjadi teman.
Kini wajah mereka berbeda.
Mungkin karena baju zirah sudah dilepas.
Mungkin juga karena lelah.
Salah seorang menepuk pundakku.
Tak ada maksud memantik marah.
Hanya sebatang rokok ilegal yang menyala,
seperti bisik kecil yang menentang aturan.
"Aku yakin, Sampean merasakan perubahannya," katanya pelan.
Dan di warung kopi ujung kota itu,
obrolan kami berubah menjadi rintik-rintik politik.
Tajam, tapi lirih.
Begini ujung ceritanya:
Kekuasaan memang mengubah kalkulus seorang pemimpin.
Tidak semua, tapi sering.
Saat kampanye, yang dicari adalah loyalitas, semangat, massa.
Saat memerintah, yang dicari adalah akal, angka, dan aman.
Karena itu muncul "orang-orang baru".
Wajah-wajah yang katanya lebih profesional,
lebih bersih dari kepentingan.
Padahal kesetiaannya belum pernah diuji hujan.
Lingkar kekuasaan mengecil.
Yang dekat, yang dipercaya.
Yang dulu meneriakkan nama,
kini menunggu di luar pintu.
Bukan selalu pengkhianatan.
Kadang hanya jarak yang menumbuhkan lupa.
Politik memang pahit.
Ia mengingat jasa saat butuh suara,
dan mengingat manfaat saat butuh bertahan.
Maka jangan heran
jika banyak hati dari bawah merasa sepi.
Karena yang diuji bukan hanya setia,
tetapi juga besarnya hati
untuk tetap membuka pintu
bagi mereka yang pernah membesarkan.***
Bagaimana Tanggapan Anda?
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.
