Di Balik Gurihnya Gorengan Lumajang: Penopang Ekonomi Mikro yang Luput dari Perhatian
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Gorengan di Pasar Baru Lumajang
Waktu baca sekitar 1 menit
Lumajang, satudetik.online – Di tengah gempuran kopi kekinian dan camilan impor, ada satu menu yang tak pernah kehilangan tempat di hati warga Lumajang: gorengan hangat dan segelas teh.
Sepiring gorengan beraneka ragam - ada tempe, tahu isi, bakwan, dan pisang goreng - disajikan di atas baskom biru beralaskan kertas minyak.
Asapnya masih tipis-tipis, kulitnya keemasan dan renyah. Di sampingnya, segelas teh hangat dalam gelas kaca menjadi pasangan yang sempurna.
Gorengan bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kebersamaan. Di warung-warung kecil pinggir jalan, di teras rumah saat hujan sore, atau di sela rapat redaksi, gorengan selalu hadir menjadi pencair suasana. Harganya murah, merakyat, dan rasanya jujur.
Bagi warga Lumajang, gorengan punya filosofi sendiri: tidak perlu mewah untuk bisa dinikmati bersama. Cukup kriuk di luar, lembut di dalam, dan dinikmati selagi hangat.
Di saat ekonomi sedang naik turun, gorengan juga menjadi penopang ekonomi keluarga. Satu penggorengan bisa menghidupi satu keluarga, membuka lapangan kerja dari dapur sendiri. Dari adonan tepung dan minyak panas, lahir ketahanan ekonomi yang nyata.
Sore dan pagi hari, di pasar atau di sudut-sudut Kota Lumajang, berhentilah sejenak. Pesan lima ribu gorengan campur dan teh hangat. Nikmati pelan-pelan. Kadang, kebahagiaan memang sesederhana itu. ( Binar)
Bagaimana Tanggapan Anda?
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.