Cegah Dehidrasi Petani saat di Sawah, Tim Peneliti Universitas Jember Gelar AgroHydrate Care di Kebonagung
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Tim peneliti saat melakukan monitoring praktik hidrasi petani
Waktu baca sekitar 2 menit
Lumajang, satudetik.online - Tim peneliti Kelompok Riset-Dimas Fundamental and Nursing Practice Studies (FUN PRASE) dari Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang menggelar program pemberdayaan masyarakat bertajuk AgroHydrate Care: Pemberdayaan Kelompok Tani dalam Pencegahan Dehidrasi dan Heat Stress.
Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Kebonagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini berfokus pada edukasi pencegahan gangguan keseimbangan cairan serta regulasi suhu tubuh saat petani bekerja di lahan terbuka.
Program ini diselenggarakan oleh tim yang diketuai oleh Ns. Annisa Pratiwi, M.Kep., dengan anggota Zainal Abidin, S.Pd., M.Kes., Rizeki Dwi Fibriansari, S.Kep., Ners., M.Kep., dan Anggia Astuti, S.Kp., M.Kep., serta melibatkan dua mahasiswa D3 Keperawatan. Kegiatan ini diikuti oleh 35 petani setempat yang tergabung dalam kelompok tani.

Program ini didukung oleh Universitas Jember dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang serta Puskesmas Sukodono.
Tahap pelaksanaan edukasi dimulai pada 10 Agustus 2026 dan berjalan berkelanjutan sepanjang periode program pengabdian.
Ketua Tim, Ns. Annisa Pratiwi, M.Kep., menjelaskan Kabupaten Lumajang sebagai wilayah agraris menempatkan petani pada risiko tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan sinar matahari langsung dalam durasi panjang.
"Kabupaten Lumajang merupakan wilayah agraris di mana para petani sering bekerja di lahan terbuka dengan paparan sinar matahari langsung dalam durasi panjang. Kondisi ini menempatkan petani pada risiko tinggi mengalami dehidrasi kronis dan heat stress atau kelelahan akibat panas yang dapat menurunkan produktivitas serta mengganggu kesehatan mereka. Minimnya pengetahuan mengenai pemenuhan kebutuhan cairan yang terjadwal menjadi alasan utama program ini kami inisiasi," ujarnya.
Program ini dijalankan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis komunitas melalui beberapa langkah praktis.
Pertama, edukasi interaktif. Tim memberikan penyuluhan mengenai bahaya dehidrasi, regulasi suhu tubuh, serta trik rehidrasi terjadwal menggunakan media visual berupa leaflet dan X-banner.
Kedua, pembagian AgroHydrate Kit. Setiap petani dibekali botol minum berkapasitas 2 liter, stiker jadwal minum sebagai pengingat, serta stiker indikator warna urine untuk memeriksa status hidrasi secara mandiri.
Ketiga, pembentukan kader. Tim telah membentuk dua orang kader AgroHydrate sebagai penggerak praktik hidrasi sehat di lapangan.
Keempat, monitoring keberlanjutan. Tim membentuk grup WhatsApp "Sahabat AgroHydrate" untuk memantau kebiasaan minum petani dan melakukan evaluasi lapangan.

Melalui program ini, tim berharap petani di Desa Kebonagung dapat lebih waspada terhadap bahaya dehidrasi dan heat stress serta menerapkan pola hidrasi sehat saat beraktivitas di lahan pertanian.(Annisa Pratiwi)
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.