• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •
Redaksi Mengurai

Dari Video Viral ke Sanksi Partai: Kisah Anggota DPRD Jember yang Kini Masuk Catatan Merah Gerindra

PENULIS: Teguh Eko Januari
EDITOR: Redaksi
16 Mei 2026
212 VIEWS
Dari Video Viral ke Sanksi Partai: Kisah Anggota DPRD Jember yang Kini Masuk Catatan Merah Gerindra

Teguh Eko Januari

satudetik.online - Sidang Majelis Kehormatan Partai Gerindra akhirnya memutuskan memberi teguran keras dan terakhir kepada Achmad Syahri, anggota DPRD Jember yang  merokok sambil main gim saat rapat hingga videonya viral di berbagai platform media sosial.

Tidak sampai di situ, MK Partai Gerindra juga mengancam sanksi berat berupa pemberhentian jika kejadian serupa diulang kembali oleh yang bersangkutan.

Teguran keras dan terakhir itu adalah level sanksi organisasi partai yang paling tinggi sebelum pemecatan.

Untuk kasus Achmad Syahri, implikasinya bisa begini:

1. Statusnya sudah di ujung tanduk

Ini bukan teguran biasa. "Terakhir" artinya partai sudah memberi warning final.

Kalau Achmad Syahri mengulangi pelanggaran kode etik, proses pemecatan/PAW bisa langsung jalan tanpa mediasi lagi.

Partai tidak mau terlihat lembek di mata publik setelah videonya viral.

2. Dampak ke posisi politik.

Di internal partai: Nama Achmad Syahri masuk catatan merah. Sulit dapat promosi, posisi strategis, atau diusung lagi di pemilu berikutnya.

Di DPRD: Secara hukum Achmad Syahri tetap anggota DPRD sampai ada PAW. Tapi kredibilitasnya di fraksi dan di publik anjlok. Biasanya akan dijauhkan dari pimpinan rapat, komisi penting, atau juru bicara.

Pencalonan ulang: Hampir pasti jadi bahan serangan lawan politik. Partai juga mikir 2x buat mencalonkan lagi orang yang audah bermasalah.

3. Dampak ke citra partai

Gerindra memakai sanksi ini untuk damage control. Tujuannya untuk menunjukkan jika Gerindra tidak toleransi kepada perilaku yang tidak profesional agar publik tidak generalisir semua kader sama.

Tapi jika ia mengulang llagi dan partai tidak tindak tegas, boomerangnya ke partai sendiri.

4.Proses hukumnya

Teguran partai beda sama sanksi hukum. Ia tidak terkena pidana karena main game dan merokok di rapat.

Tapi BK DPRD bisa melanjutkan dengan sanksi etik: peringatan tertulis, skorsing, sampai usulan PAW ke KPU. Teguran partai biasanya jadi bahan pertimbangan BK.

Singkatnya ibarat permainan sepak bola, ini kartu kuning merah. Ia masih main, tapi satu pelanggaran kecil lagi langsung kartu merah (keluar dari partai dan bisa diusulkan PAW).

Keputusan Majelis Kehormatan ini dampaknya ke Partai Gerindra ada 2 sisi: jangka pendek untuk meredam kegaaduhan, jangka panjang untuk jaga citra.

Jangka pendeknya sebagai Damage control biar tidak semakin melebar.

Kasus viral hingga bisa memunculkan narasi "anggota dewan tidak serius kerja". Kalau Gerindra diam saja, maka citranya ketempelan stigma itu.

Dengan memberi teguran keras dan dipublikasi, partai mengirim sinyal bahw pihaknya tidak memberi toleransi perilaku seperti itu dan partai telah berani menindak kader sendiri.

Ini efektif untuk memadamkan api. Media dan publik biasanya berhenti me-bully partai kalau sudah ada tindakan nyata, meski cuma teguran.

Ini sebagai tekanan ke internal kader. Sanksi publik seperti ini jadi peringatan buat 5000+ kader DPRD Gerindra di seluruh Indonesia.

Efeknya tentu kader lain jadi lebih hati-hati, terutama pas ketika rapat yang sedang disiarkan.

Internal disiplin jadi naik karena merasa diawasi  tapi risikonya, kalau sanksi dianggap tidan konsisten, kader malah sinis.

Untuk jangka panjangnya, ini menjadi taruhan di Pemilu 2029

Pemilu legislatif itu mainnya di citra dan kepercayaan lokal. Satu kasus viral di Jember bisa jadi amunisi lawan politik di seluruh Jatim, bahkan nasional.

Kalau Gerindra konsisten tindak tegas, partai dapatb poin "bersih dan disiplin".

Kalau kasusnya diulang dan cuma ditegur lagi, publik bakal bilang "tegasnya cuma di omongan". Itu yang membuat elektabilitas tergerus pelan-pelan.

Gerindra harus mikir efek ke dapil Jember. Pemilih di di Jember bakal mempertimbangkan pilihannya

Kalau partai tidak mengganti calon di 2029, lawan politik bisa memakai video itu untuk kampanye negatif. Jadi partai sekarang sedang berhitung, lebih rugi kehilangan 1 kader, atau kehilangan suara di Jember?

Intinya, Gerindra sedang main aman. Teguran keras itu cara termurah untuk menjaga citra tanpa harus kehilangan kursi DPRD sekarang.

Semoga ini jadi pembelajaran kita semua. Untuk anggota DPRD  siapapun dari partai apapun harusnya sadar, sebagai wakil rakyat harus sungguh-sungguh bekerja dan tidak makan gaji buta. ***