• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami
LumajangBudaya

Makna Barikan Malam 17 Agustus, Tradisi Syukur dan Kebersamaan Warga Lumajang

PENULIS: Binar
EDITOR: Teguh Eko Januari
16 Agustus 2026
1047 VIEWS
Dengarkan BeritaAudio AI

Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis

Makna Barikan Malam 17 Agustus, Tradisi Syukur dan Kebersamaan Warga Lumajang

Barikan Kemerdekaan RI ke 81 di Dusun Rowocangkring Desa Sumberejo Kecamatan Sukodono Lumajang

Lumajang, satudetik.onlineMenjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga di berbagai desa di Kabupaten Lumajang menggelar tradisi Barikan pada malam 17 Agustus 2026.

Tidak seperti yang digelar oleh warga Dusun Rowocangkring Desa Sumberejo Kecamatan Sukodono Lumajang yang berkolaborasi dengan warga Perumahan Plataran Randu Regency .

Ratusan warga duduk melingkar di atas tikar panjang di halaman terbuka. Di tengah lingkaran tersebut terdapat tumpukan berkat berupa makanan dan bingkisan.

Beberapa tiang bendera Merah Putih berdiri di sisi acara, menandakan suasana kemerdekaan. Dalam acara ini selain diisi dengan ceramah agama oleh tokoh setempat juga digelar doa bersama.

Acara ini diawali dengan menyesuaikan lagu Indonesia Raya dan Hari Kemerdekaan.

Barikan yang digelar setiap malam 17 Agustus ininmerupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa Timur, khususnya di Tapal Kuda.

Kegiatan ini biasanya digelar pada malam sebelum 17 Agustus, malam Jumat Kliwon, atau saat ada hajatan desa.

Makna dan Rangkaian Barikan

Barikan berasal dari kata "berkah" dan "berbagi". Tradisinya berupa doa bersama, pembacaan tahlil, sholawat, dan dzikir untuk mendoakan para pahlawan, leluhur, serta keselamatan desa.

Setelah doa, berkat yang berisi nasi, lauk, jajan pasar, dan buah dibagikan kepada warga yang hadir. Setiap keluarga biasanya membawa berkat dari rumah untuk dikumpulkan dan didoakan bersama, lalu dibawa pulang kembali.

"Intinya sedekah bumi dan rasa syukur. Kita doakan arwah para pejuang, sekaligus mohon agar desa diberi keselamatan," kata Pak Suud, salah satu tokoh masyarakat.

Simbol Kebersamaan

Yang membuat Barikan berbeda adalah kebersamaannya. Warga dari berbagai usia, laki-laki dan perempuan, duduk satu hamparan tanpa sekat. Tidak ada perbedaan status sosial saat acara berlangsung.

Di Lumajang, Barikan pada malam 17 Agustus juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan. Setelah acara doa, biasanya dilanjutkan dengan kegiatan kemerdekaan lain seperti kerja bakti dan perlombaan.

Hingga kini, tradisi Barikan tetap lestari karena dianggap mampu mempererat kerukunan warga. Di tengah modernisasi, Barikan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya upacara, tetapi juga tentang gotong royong dan rasa syukur bersama. (Binar)

Bagaimana Tanggapan Anda?

Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.

Kembali ke Indeks

Berita Terkait

Rekomendasi Redaksi

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami