• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami
LumajangPendidikan dan Kesehatan

Bukan Sekadar Larangan, SMPN 2 Jatiroto Bentengi Siswa dari Bullying hingga Bahaya Medsos

PENULIS: Bernad
EDITOR: Teguh Eko Januari
3 hari yang lalu
1014 VIEWS
Dengarkan BeritaAudio AI

Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis

Bukan Sekadar Larangan, SMPN 2 Jatiroto Bentengi Siswa dari Bullying hingga Bahaya Medsos

Kepala SMPN 2 Jatiroto, Ervan K. Dewanto, M.Pd.,

Lumajang, satudetik.onlineLingkungan sekolah yang aman bukan hanya soal kegiatan belajar mengajar. SMPN 2 Jatiroto, Kabupaten Lumajang, juga memperkuat upaya mencegah bullying sekaligus membekali siswa agar lebih bijak saat menggunakan media sosial.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak.

Siswa tidak hanya diarahkan untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki sikap saling menghargai dan mampu bertanggung jawab dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di dunia digital.

Kepala SMPN 2 Jatiroto, Ervan K. Dewanto, M.Pd., mengatakan pencegahan bullying harus dilakukan sejak dini dan melibatkan seluruh warga sekolah.

Menurutnya, persoalan perundungan tidak boleh dianggap sebagai hal sepele, meskipun awalnya hanya berupa candaan.

“Kami berkomitmen menjadikan SMPN 2 Jatiroto sebagai sekolah ramah anak. Bullying sekecil apa pun tidak kami toleransi. Guru, siswa, dan orang tua kami ajak bersama-sama mengawasi dan saling mengingatkan,” ujar Ervan, Selasa (8/9/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan penggunaan media sosial juga menjadi perhatian sekolah.

Kedekatan siswa dengan telepon seluler membuat edukasi tentang etika bermedia sosial semakin penting.

Sebab, persoalan yang bermula dari lingkungan sekolah bisa berlanjut ke media sosial.

Komentar, unggahan, maupun penyebaran konten yang dianggap sebagai candaan dapat berdampak pada siswa lain apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan etika.

“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan HP. Maka kami bekali mereka pemahaman bahwa jari yang mengetik juga harus bertanggung jawab. Bermedsos itu boleh, tapi harus tahu batasan, etika, dan aturannya. Jangan sampai menjadi pelaku atau korban cyberbullying,” katanya.

Selain memberikan edukasi, sekolah juga mendorong siswa agar berani menyampaikan persoalan apabila mengalami atau mengetahui adanya tindakan bullying. Guru diharapkan menjadi pihak yang dapat memberikan pendampingan sehingga masalah tidak dibiarkan berkembang.

Ervan menegaskan, menciptakan sekolah ramah anak tidak cukup hanya dengan membuat aturan.

Dibutuhkan kepedulian bersama antara guru, siswa dan orang tua untuk membangun lingkungan yang saling menghormati.

“Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya pintar, tapi juga punya adab. Itu modal utama mereka di masyarakat nanti,” pungkasnya.

Upaya tersebut diharapkan mampu membentuk siswa SMPN 2 Jatiroto menjadi generasi yang lebih peduli terhadap sesama, mampu menjaga sikap di dunia nyata maupun media sosial, serta menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif.(Bernad)

Bagaimana Tanggapan Anda?

Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.

1 Reaksi Pembaca
Kembali ke Indeks

Berita Terkait

Rekomendasi Redaksi

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami