• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami
Lumajang

Wotgalih di Yosowilangun Miliki Beragam Potensi, Ini Langkah untuk Mendorong Kemajuan dan Kesejahteraan Warga

PENULIS: Binar
EDITOR: Teguh Eko Januari
30 Juli 2026
1026 VIEWS
Dengarkan BeritaAudio AI

Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis

Wotgalih di Yosowilangun Miliki Beragam Potensi, Ini Langkah untuk Mendorong Kemajuan dan Kesejahteraan Warga

Xing Trisno

Lumajang, satudetik.online — Berada di wilayah paling selatan Kecamatan Yosowilangun, Desa Wotgalih memiliki sumber daya yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan bentang wilayah 29,80 km² dan garis pantai yang langsung menghadap Samudra Hindia, desa ini memiliki kekayaan alam, sosial, dan budaya yang dapat menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat.

Selama ini Wotgalih dikenal sebagai desa pesisir dengan Pantai Wotgalih, Pantai Meleman, dan Pantai Mbah Drajit. Pesona pantai berpasir hitam yang berdampingan dengan gumuk pasir serta Rawa Meleman menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Tokoh masyarakat setempat, Trisno, menyebut setidaknya ada empat potensi utama yang dimiliki Desa Wotgalih.

Pertama, sektor pariwisata pesisir, religi, dan ekologi.

Di kawasan Pantai Mbah Drajit terdapat lokasi wisata religi yang kerap dikunjungi warga Lumajang maupun dari luar daerah.

Trisno menyampaikan, Universitas Jember sebelumnya pernah menggagas Wotgalih sebagai desa wisata dengan konsep ekologi, kearifan lokal, dan religi.

"Selain itu, Dinas Perikanan Lumajang juga sudah melakukan survei untuk pengembangan konservasi penyu seluas satu hektare di pantai ini, bekerja sama dengan Pokmaswas Wotgalih. Hal ini membuka peluang wisata edukasi berbasis konservasi," ujarnya.

Menurut Trisno, warga setempat telah merintis pengembangan kawasan pantai melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sejak enam tahun lalu. Kehadiran wisatawan mulai memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi desa.

Kedua, bidang perikanan dan budidaya tambak.

Wotgalih telah memiliki tambak udang vannamei sejak 1988 dengan jumlah sekitar 80 petak. Kondisi perairan dan suhu di wilayah pesisir sangat mendukung, sehingga hasil panen bahkan telah diekspor ke luar negeri.

"Potensi penangkapan ikan dan spot memancing juga cukup besar, mengingat desa ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia," kata pria yang pernah menjabat Ketua Komisi C DPRD Lumajang tersebut.

Ketiga, UMKM dan produk khas daerah.

Trisno menuturkan, Tim Pengabdian Universitas Jember juga mendorong warga untuk mengembangkan UMKM, khususnya pembuatan terasi dan produk olahan lain yang menjadi ciri khas daerah pesisir.

"Produk kuliner, cendera mata, dan kerajinan berbahan baku laut dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok PKK dan generasi muda," jelasnya. Pria yang akrab disapa Xing Trisno ini menambahkan.

Keempat, fungsi ekologi sebagai pelindung alami.

Gumuk pasir di Wotgalih berperan meredam hempasan ombak dan menyaring air laut menjadi air tawar pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai.

Pada peristiwa tsunami tahun 1994, desa ini tetap aman berkat keberadaan benteng alami tersebut.

"Potensi ini dapat dikembangkan menjadi sarana edukasi mitigasi bencana sekaligus ekowisata," tuturnya.

Langkah Strategis Memajukan Wotgalih

Agar potensi tersebut tidak hanya menjadi wacana, Xing Trisno mengusulkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan bersama:

1. Mewujudkan Desa Wisata Terpadu Wotgalih dengan mengintegrasikan wisata pantai, religi, dan edukasi lingkungan.

2. Memperkuat UMKM berbasis kelautan dan kearifan lokal melalui pelatihan dan pemasaran digital.

3. Modernisasi tambak yang berwawasan lingkungan dengan pendampingan teknis dari dinas terkait.

4. Membangun kemitraan dengan perguruan tinggi dan pihak swasta untuk riset, promosi, dan pengembangan infrastruktur.

5. Pemberdayaan pemuda dan perempuan melalui pelatihan pemandu wisata, penjaga pantai, pengelola media sosial, serta kelompok usaha kuliner dan homestay.

"Pemuda dapat dibina menjadi pemandu wisata, lifeguard, dan pengelola konten digital desa wisata. Sementara perempuan diberdayakan melalui usaha kuliner dan penyediaan homestay," ungkapnya.

Ke depan, ia berharap pemerintah desa bersama perangkatnya menjadikan Rawa Meleman dan Pantai Mbah Drajit sebagai ikon Desa Wotgalih.

"Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Lumajang, Pemerintah Provinsi, serta kerja sama lintas sektor, insyaallah Wotgalih dapat menjadi contoh desa pesisir yang mandiri secara ekonomi dan tetap menjaga kelestarian alam," ujarnya.

"Wotgalih bukan hanya memiliki laut. Wotgalih juga memiliki masa depan," pungkasnya.(Binar)

Bagaimana Tanggapan Anda?

Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.

Kembali ke Indeks

Berita Terkait

Rekomendasi Redaksi

Billboard Space Iklan Premium

Posisi teratas paling strategis dengan impresi tertinggi. Tingkatkan jangkauan merek Anda di satudetik.online.

Hubungi Redaksi Kami