Perhutani SKPH Lumajang Tampilkan “Shakti Satyaning Ibu” di Karnaval, Ajarkan Hutan dan Budaya Saling Menjaga
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Lumajang, satudetik.online — Lumajang Carnival 2026 tidak hanya menjadi ajang memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah kemeriahan kostum dan pertunjukan, Perhutani Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (SKPH) Lumajang menyelipkan pesan penting tentang hubungan antara alam, budaya, dan masyarakat.
Mengusung tema “Shakti Satyaning Ibu”, kontingen Perhutani SKPH Lumajang tampil pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Penampilannya memadukan gerak tari, kekayaan tradisi lokal, serta nuansa alam yang menjadi ciri khas Lumajang.
Tema tersebut dipilih sebagai pengingat bahwa hutan bukan sekadar wilayah yang harus dilindungi. Hutan juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan sosial dan kebudayaan warga di sekitarnya.
Melalui panggung karnaval, pesan itu dikemas dalam pertunjukan yang menarik. Identitas Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan dipertemukan dengan unsur seni dan budaya setempat agar lebih mudah dipahami publik.
Bagi Perhutani SKPH Lumajang, keikutsertaan dalam karnaval lebih dari sekadar memeriahkan kemerdekaan. Momen ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam dan budaya perlu kerja bersama.
Waka ADM SKPH Lumajang, Soegiharto Aries Soebagio, mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat sejak persiapan hingga pelaksanaan.
“Terselenggaranya kegiatan ini berkat dukungan teman-teman Asper dan Mantri di jajaran. Saya sampaikan terima kasih atas dukungan luar biasa ini,” ujarnya.
Menurut Soegiharto, kekompakan tim menjadi kunci keberhasilan Perhutani SKPH Lumajang dalam mengambil bagian pada perhelatan tersebut.
Keterlibatan Asper dan Mantri di lapangan juga menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan bisa menjadi ruang untuk memperkuat soliditas internal dan mempererat hubungan lembaga dengan masyarakat.
Di era modernisasi, budaya lokal sering kali tergerus perubahan zaman. Kehadiran unsur budaya dalam acara publik seperti Lumajang Carnival menjadi penting agar identitas daerah tidak hanya menjadi simbol, tetapi tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.
Dengan bahasa seni, budaya, dan pesan tentang alam, Perhutani SKPH Lumajang mengingatkan bahwa makna kemerdekaan juga terletak pada kemampuan kita merawat warisan leluhur, termasuk hutan dan kebudayaan yang tumbuh di tanah Lumajang.(Bernad)
Bagaimana Tanggapan Anda?
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.
